Memasuki bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah, banyak umat Islam mulai mencari informasi soal puasa sunnah menjelang Idul Adha. Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul di Google adalah apakah niat puasa Dzulhijjah dibarengi qadha Ramadhan boleh?.

Pertanyaan ini memang cukup sering muncul, terutama bagi orang yang masih memiliki utang puasa Ramadhan tetapi juga ingin mendapatkan keutamaan puasa sunnah Dzulhijjah, termasuk puasa Tarwiyah dan Arafah.

Apalagi, berdasarkan berbagai informasi yang beredar, 1 Dzulhijjah 1447 H diperkirakan jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Artinya, umat Islam sudah mulai bisa menjalankan puasa sunnah Dzulhijjah sejak tanggal tersebut.

Puasa Dzulhijjah sendiri merupakan salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Di dalamnya terdapat puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah yang memiliki keutamaan besar.

Karena waktunya berdekatan dengan Idul Adha, banyak orang akhirnya berpikir untuk sekalian mengganti utang puasa Ramadhan sambil menjalankan puasa sunnah Dzulhijjah. Lalu bagaimana hukumnya?

Dalam pembahasan fikih, persoalan menggabungkan niat puasa wajib dan sunnah memang sering dibahas para ulama. Sebagian ulama membolehkan mengqadha puasa Ramadhan di hari-hari puasa sunnah agar tetap mendapatkan keutamaan waktunya.

Artinya, seseorang tetap berniat utama untuk qadha puasa Ramadhan, tetapi ia juga diharapkan memperoleh pahala karena berpuasa di hari-hari mulia bulan Dzulhijjah.

Namun ada juga ulama yang menyarankan agar niat puasa qadha dan puasa sunnah tidak digabung secara langsung dalam lafaz niat. Pendapat ini menekankan bahwa puasa wajib lebih utama sehingga niatnya cukup fokus pada qadha Ramadhan.

Meski begitu, banyak ulama tetap menjelaskan bahwa orang yang berpuasa qadha di hari-hari Dzulhijjah tetap bisa mendapatkan keberkahan dan keutamaan bulan tersebut.

Karena itu, bagi umat Islam yang masih punya utang puasa Ramadhan, mengqadhanya di bulan Dzulhijjah dianggap sebagai langkah baik daripada meninggalkannya.

Niat Puasa Dzulhijjah

Salah satu hal yang paling banyak dicari adalah bagaimana bacaan niat puasa Dzulhijjah dibarengi qadha Ramadhan. Beberapa ulama menyarankan agar niat utamanya tetap qadha puasa Ramadhan karena statusnya wajib.

Bacaan niat qadha puasa Ramadhan adalah:

“نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى”

Latin:

“Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaai fardhi ramadhaana lillaahi ta’aalaa.”

Artinya:

“Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala.”

Sementara itu, niat puasa sunnah Dzulhijjah adalah:

“نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذُوالْحِجَّةِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى”

Latin:

“Nawaitu shauma syahri dzulhijjah sunnatan lillaahi ta’aalaa.”

Artinya:

“Aku berniat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”

Bagi yang ingin lebih aman mengikuti pendapat mayoritas ulama, cukup niat qadha puasa Ramadhan saja, sementara pahala puasa sunnah Dzulhijjah diharapkan mengikuti keutamaan waktunya.

Jadwal Puasa Dzulhijjah 2026

Berdasarkan informasi yang beredar, berikut perkiraan jadwal puasa Dzulhijjah 1447 H:

  • 1 Dzulhijjah: Senin, 18 Mei 2026
  • 8 Dzulhijjah (Tarwiyah): Senin, 25 Mei 2026
  • 9 Dzulhijjah (Arafah): Selasa, 26 Mei 2026
  • Idul Adha 1447 H: Rabu, 27 Mei 2026 

Meski demikian, penetapan resmi Idul Adha tetap menunggu hasil sidang isbat pemerintah. Puasa di awal bulan Dzulhijjah termasuk ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam

Banyak hadis menjelaskan bahwa 10 hari pertama Dzulhijjah merupakan hari-hari yang paling dicintai Allah untuk beramal saleh. Sementara itu, puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah memiliki keutamaan luar biasa.

Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang bagi orang yang tidak sedang berhaji.

Karena itulah banyak umat Islam tidak ingin melewatkan kesempatan berpuasa di hari-hari tersebut, meski masih memiliki utang puasa Ramadhan.

Dalam berbagai penjelasan ulama, qadha puasa Ramadhan tetap menjadi prioritas karena hukumnya wajib. Sementara puasa Dzulhijjah bersifat sunnah.

Artinya, jika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadhan, maka lebih baik mendahulukan qadha. Namun jika qadha dilakukan tepat di hari-hari puasa Dzulhijjah, sebagian ulama menilai seseorang tetap bisa memperoleh keutamaan waktunya.

Hal ini juga sering dianalogikan dengan puasa sunnah lain seperti puasa Syawal atau Ayyamul Bidh yang kadang dilakukan bersamaan dengan qadha Ramadhan.

Meski ada perbedaan pendapat, inti utamanya adalah jangan sampai utang puasa Ramadhan terus ditunda tanpa alasan yang jelas.

Kenapa Topik Ini Banyak Dicari?

Menjelang Idul Adha, pencarian tentang niat puasa Dzulhijjah dibarengi qadha Ramadhan memang selalu meningkat. Banyak orang ingin tetap mendapatkan pahala puasa sunnah tanpa melupakan kewajiban mengganti puasa Ramadhan sebelumnya.

Selain itu, bulan Dzulhijjah juga dikenal sebagai salah satu bulan paling istimewa dalam kalender Islam. Karena itu, umat Islam berlomba-lomba memperbanyak ibadah, mulai dari puasa, sedekah, takbir, hingga membaca Al-Qur’an.

Bagi yang masih memiliki utang puasa Ramadhan, momentum Dzulhijjah sering dianggap waktu yang tepat untuk mulai mencicil atau menyelesaikan qadha puasa.

Yang masih bingung soal niat puasa Dzulhijjah dibarengi qadha Ramadhan, banyak ulama menyarankan agar niat utamanya tetap qadha puasa wajib.

Namun, seseorang tetap bisa berharap mendapatkan keberkahan dan pahala puasa sunnah karena dilakukan di hari-hari mulia bulan Dzulhijjah. (Dila Nashear)