Mengenal Desa Adat Sade Sebelum Kebakaran Hebat: Warisan Budaya Sasak di Lombok
Desa Adat Sade Lombok sebelum kebakaran dikenal sebagai kampung tradisional Suku Sasak yang mempertahankan rumah adat, tradisi, dan kehidupan warga di tengah wisata budaya.
Kabar kebakaran yang melanda Desa Adat Sade di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, membuat perhatian publik tertuju pada salah satu kampung tradisional paling dikenal di Pulau Lombok.
Sebelum peristiwa tersebut, kawasan ini merupakan ruang hidup masyarakat Sasak yang setiap hari juga ramai didatangi wisatawan.
Bagi pengunjung, Desa Adat Sade Lombok sebelum kebakaran menampilkan pemandangan khas berupa deretan rumah tradisional, jalan-jalan kecil di antara permukiman, aktivitas warga, hingga kain tenun yang dibuat dan dijual masyarakat setempat.
Namun, bagi warga Sade, kampung ini bukan sekadar destinasi wisata. Sade merupakan tempat tinggal sekaligus ruang untuk mempertahankan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kebakaran besar melanda kawasan Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.
Hingga Senin, 24 Agustus 2026, pemerintah masih melakukan penanganan dan pemulihan bagi warga terdampak. Data sementara yang dilaporkan pemerintah daerah menyebut 320 jiwa atau 120 kepala keluarga terdampak kebakaran tersebut.
Desa Adat Sade sebelum kebakaran
Beberapa minggu sebelum kebakaran terjadi, kehidupan di Sade masih berjalan seperti biasa. Suasana Desa Adat Sade pada 9 Agustus 2026 masih ramai oleh wisatawan yang datang menggunakan berbagai kendaraan.
Rumah-rumah adat berdiri berderet di tengah permukiman. Wisatawan menyusuri jalan sempit kampung, sementara warga menjalankan aktivitas sehari-hari.
Para pemandu wisata mengenakan sapuk atau ikat kepala tradisional khas Sasak sambil menjelaskan sejarah dan kehidupan masyarakat kepada pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara.
Gambaran tersebut memperlihatkan posisi unik Sade sebagai kampung yang dihuni masyarakat sekaligus menjadi tujuan wisata. Pengunjung dapat melihat bentuk permukiman tradisional secara langsung karena bangunan-bangunan di kawasan itu tidak hanya dijadikan pajangan.
Sejumlah laporan sebelum dan setelah kebakaran menyebut Sade telah menjadi tempat tinggal masyarakat Sasak selama berabad-abad.
Kampung tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 600 tahun dan tradisi masyarakatnya terus diwariskan lintas generasi.
Rumah tradisional menjadi ciri utama Sade
Salah satu pemandangan yang paling melekat pada Desa Adat Sade adalah rumah tradisional Sasak. Sebelum kebakaran, rumah-rumah tersebut berdiri rapat dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti bambu, kayu, tanah, dan jerami atau ilalang.
Salah satu jenis bangunan yang dikenal adalah Bale Tani, rumah tinggal tradisional masyarakat Sasak. Bentuk, bahan, serta tata ruang bangunan tidak terlepas dari cara hidup masyarakat yang menjunjung kesederhanaan dan kebersamaan.
Keunikan arsitektur tersebut menjadi bagian penting dari daya tarik Sade. Pintu Bale Tani, misalnya, dibuat relatif rendah sehingga orang yang masuk perlu menundukkan badan.
Elemen bangunan dan arah rumah juga memiliki kaitan dengan nilai budaya yang hidup di masyarakat setempat. Material alami yang menjadi ciri khas rumah Sade kemudian menjadi salah satu tantangan ketika kebakaran terjadi.
Bangunan yang banyak menggunakan kayu, bambu, dan ilalang membuat api lebih mudah merambat dari satu rumah ke rumah lain.
Kehidupan masyarakat dan budaya Sasak
Desa Sade sebelum kebakaran juga dikenal melalui aktivitas keseharian masyarakatnya. Tradisi menenun menjadi salah satu bagian yang sering ditemui wisatawan ketika berkunjung ke kampung tersebut.
Perempuan Sade dikenal menjaga keterampilan membuat kain tenun tradisional. Aktivitas itu menjadi bagian dari kehidupan budaya sekaligus memperkenalkan kerajinan Sasak kepada pengunjung.
Selain arsitektur dan tenun, kehidupan masyarakat Sade juga berkaitan dengan berbagai aturan adat. Tradisi keluarga, pewarisan rumah, hingga kehidupan sosial warga dijalankan berdasarkan kebiasaan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Tokoh masyarakat setempat menyatakan bahwa kebakaran tidak serta-merta menghapus sejarah dan identitas Sade. Dalam rencana membangun kembali kawasan tersebut, warga disebut ingin mempertahankan bentuk dan cerita rumah adat sebagai bagian dari warisan yang tetap dijaga.
Dari kampung adat menjadi destinasi wisata budaya
Letaknya yang berada di jalur menuju kawasan wisata Kuta Mandalika turut membuat Desa Adat Sade Lombok dikenal luas oleh para wisatawan.
Sebelum kebakaran, kendaraan wisatawan rutin datang dan parkir di sekitar kawasan, sementara pengunjung berjalan masuk untuk melihat permukiman dan aktivitas masyarakat Sasak.
Sade pun berkembang menjadi salah satu wajah wisata budaya Lombok. Namun, daya tarik utamanya bukan hanya usia kampung atau bentuk bangunannya, melainkan keberadaan masyarakat yang masih tinggal dan menjalankan tradisi di dalamnya.
Karena itu, kebakaran pada 22 Agustus 2026 menjadi perhatian besar, bukan hanya karena bangunan yang rusak, tetapi juga karena dampaknya terhadap kehidupan warga dan warisan budaya Sasak.
Pemerintah pusat dan daerah kini membahas penanganan korban serta langkah rekonstruksi kawasan. Menteri Pariwisata juga menyebut Sade bukan sekadar destinasi wisata, melainkan rumah masyarakat dan ruang hidup budaya Sasak.
Pemerintah menyiapkan bantuan bagi warga terdampak dan menyatakan rencana untuk membangun kembali kawasan tersebut secara terkoordinasi.
Di tengah proses pemulihan cerita tentang Desa Adat Sade Lombok sebelum kebakaran menjadi pengingat bahwa nilai sebuah kampung adat tidak hanya berada pada deretan bangunan tradisionalnya.
Sade adalah tempat bertemunya rumah, keluarga, tradisi, keterampilan menenun, dan kehidupan masyarakat Sasak yang telah berlangsung dari generasi ke generasi. (Dila Nashear)