Gunung Ciremai Sekarang Kembali Terbakar: Jalur Pendakian Masih Ditutup
Gunung Ciremai sekarang kembali menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Simak kondisi terbaru, upaya pemadaman, penyebab risiko kebakaran, dan status jalur pendakian.
Kondisi Gunung Ciremai sekarang menjadi perhatian setelah kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Jawa Barat, pada Rabu malam, 21 Oktober 2026.
Hingga Kamis, 22 Oktober, tim gabungan masih melakukan pemadaman di kawasan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, setelah api menyebar di lereng yang sulit dijangkau.
Kebakaran tersebut menambah tantangan dalam menjaga kawasan konservasi di tengah kondisi vegetasi yang mengering. Angin kencang, medan berbatu, dan keterbatasan akses menuju titik api membuat proses pemadaman tidak mudah dilakukan melalui jalur darat.
Peristiwa ini juga menjadi perhatian bagi masyarakat dan calon pendaki. Sebab, seluruh jalur pendakian Gunung Ciremai sebelumnya telah ditutup sementara sejak 6 September 2026 sebagai langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
Kebakaran Kembali Terjadi di Kawasan Pasawahan
Kebakaran terbaru terdeteksi sekitar pukul 20.44 WIB pada 21 Oktober 2026. Titik api berada di kawasan Resor Pasawahan, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Kuningan, yang berbatasan dengan wilayah permukiman di sekitar kaki gunung.
Tim Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan TNGC bersama masyarakat setempat bergerak menuju lokasi setelah menerima informasi mengenai kemunculan api. Pemantauan udara juga dilakukan untuk mengetahui perkembangan kebakaran di area yang sulit diamati dari darat.
Pada Kamis, 22 Oktober, Pemerintah Kabupaten Kuningan mengerahkan tambahan personel dari berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), petugas pemadam kebakaran, serta kelompok Masyarakat Peduli Api.
Personel tambahan dari wilayah Majalengka dan Cirebon turut dilibatkan untuk mendukung penanganan. Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menjelaskan bahwa kondisi medan menjadi salah satu kendala utama petugas di lapangan.
“Kalau api sudah menjalar ke lereng-lereng yang terjal dan berbatu, proses pemadaman melalui jalur darat akan sangat sulit dan berbahaya,” kata Dian pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Menurutnya, pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengupayakan dukungan helikopter dengan metode water bombing. Langkah tersebut dipertimbangkan untuk menjangkau titik api yang sulit dicapai petugas melalui jalur darat.
Vegetasi Kering dan Angin Memperbesar Risiko
Kebakaran di kawasan Gunung Ciremai tidak terjadi untuk pertama kalinya pada tahun ini. Sepanjang musim kemarau, sejumlah titik di kawasan taman nasional tersebut telah mengalami kebakaran hutan dan lahan.
Pada kebakaran yang berlangsung pada 7–9 September 2026, Kementerian Kehutanan mencatat sekitar 46,42 hektare kawasan terdampak. Secara kumulatif, kebakaran yang terjadi sejak 21 Juli hingga September diperkirakan telah menghanguskan sekitar 97,32 hektare kawasan Ciremai.
Vegetasi kering berupa rumput, semak, serasah, dan ranting dapat menjadi bahan bakar yang mempercepat penyebaran api. Ketika angin bertiup kencang, bara api berpotensi menjalar ke bagian lain, sehingga petugas perlu melakukan pemadaman sekaligus penyisiran untuk mencegah titik api kembali menyala.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, sebelumnya menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang sangat kering meningkatkan akumulasi bahan bakar alami di permukaan kawasan hutan.
“Kondisi cuaca yang sangat kering pada musim kemarau meningkatkan akumulasi bahan bakar alami di jalur pendakian, sehingga aktivitas interaksi manusia rentan memicu munculnya titik api,” ujar Satyawan dalam penjelasan mengenai kebijakan pengaturan pendakian di kawasan konservasi.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pencegahan, terutama dengan membatasi aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran saat kondisi lingkungan sedang kering.
Apakah Gunung Ciremai Sudah Bisa Didaki?
Bagi masyarakat yang ingin mengetahui status Gunung Ciremai sekarang, jalur pendakian masih perlu dianggap tertutup sampai ada pengumuman resmi mengenai pembukaan kembali.
Balai Taman Nasional Gunung Ciremai sebelumnya menetapkan penutupan sementara seluruh jalur pendakian mulai 6 September 2026. Layanan pemesanan daring juga dihentikan sejak 1 September 2026.
Kebijakan tersebut diterapkan untuk mengurangi risiko kebakaran sekaligus melindungi keselamatan pengunjung dan kelestarian ekosistem.
Hingga informasi terbaru yang tersedia pada 22 Oktober, belum ditemukan pengumuman resmi mengenai pembukaan kembali jalur pendakian setelah kebakaran terbaru terjadi.
Calon pendaki sebaiknya memeriksa informasi dari pengelola TNGC sebelum merencanakan perjalanan dan tidak memasuki kawasan yang ditutup.
Penutupan pendakian bukan berarti seluruh kawasan Gunung Ciremai mengalami kondisi yang sama. Namun, aktivitas wisata alam tetap harus mengikuti ketentuan pengelola dan mempertimbangkan potensi bahaya di lapangan.
Masyarakat Diminta Ikut Mencegah Kebakaran
Penanganan kebakaran tidak hanya bergantung pada petugas. Warga dan pengunjung juga memiliki peran dalam mencegah munculnya sumber api baru, terutama di sekitar kawasan hutan dan lahan yang mengering.
Masyarakat diimbau tidak membakar sampah sembarangan, tidak meninggalkan puntung rokok yang masih menyala, serta segera melaporkan kepulan asap atau titik api kepada petugas terdekat.
Kondisi Gunung Ciremai sekarang menunjukkan pentingnya menjaga kawasan konservasi, terutama ketika risiko kebakaran meningkat.
Selain menjadi habitat beragam flora dan fauna, kawasan hutan ini juga berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan sumber daya air bagi masyarakat di sekitarnya.
Karena itu, pemulihan kawasan setelah kebakaran dan pencegahan kejadian berulang menjadi pekerjaan penting setelah api berhasil dikendalikan.
Sementara proses pemadaman berlangsung, masyarakat diharapkan mengikuti arahan petugas dan menunggu pengumuman resmi sebelum kembali melakukan aktivitas pendakian. (Dila Nashear)